Angga Tirta (27) bukan seorang pendaki gunung. Tapi dengan tekad yang
kuat dia bisa bertahan mendaki Gunung Salak bersama tim evakuasi korban
Sukhoi Superjet 100. Ayah Angga, Aan Husdiana, adalah salah satu
penumpang Sukhoi nahas itu.
Kepada detikcom, Senin (14/5/2012),
Angga (27) menuturkan kisahnya. Mulai dari titik awal pendakian di
kawasan Cidahu, hingga sampai ke puncak Gunung Salak di ketinggian 2.100
meter.
Berikut kronologi pendakian Angga:
- Rabu (9/5)
sore, Angga baru mendengar kabar Sukhoi yang ditumpangi ayahnya lost
contact. Ayahnya, Aan, yang merupakan seorang pilot di Kartika Airlines
menjadi salah satu penumpang pesawat. Kartika Airlines merupakan calon
konsumen Sukhoi.
- Rabu malam, Angga bersama kakak ayahnya dan
keluarganya, total ada 6 orang, berangkat menuju Pos Cidahu. Keluarga
besar Angga ingin tahu langsung kepastian nasib Sukhoi itu.
- Kamis (10/5) dini hari, dia bersama keluarganya tiba di Pos Cidahu. Muncul niat Angga untuk ikut mencari ayahnya.
-
Kamis pagi, Angga bersama TNI AD ikut mendaki menuju Puncak Gunung
Salak. Dia mendengar kabar, untuk menuju lokasi, perlu perjalanan
sekitar 2-3 jam. Angga membulatkan tekad ikut.
"Saya tidak membawa apa-apa, hanya jaket, dan sebotol air mineral," terang Angga.
Perjalanan
mendaki Gunung Salak menempuh medan yang berat. Angga menahan untuk
tidak meminum air mineral yang dia bawa. Dia berjaga-jaga untuk
perjalanan panjang.
"Ternyata kalau saya minum air, saya bisa keram. Itu aturan pendaki gunung," imbuhnya.
Tanpa
bekal logistik, Angga berjalan menuju lokasi di puncak. Jalur yang
belum dibuka membuat perjalanan menjadi lama. Angga mengaku selalu
teringat bau-bauan ayahnya sehingga dia kuat. Dalam pendakian itu, dia
kehilangan sepatunya yang jebol.
Angga bersyukur dalam perjalanan
melelahkan itu, dirinya mendapat kemudahan-kemudahan. "Alhamdulillah,
saat saya butuh air, menemukan mata air. Dan sempat makan daun pakis,
sebelum akhirnya bertemu Tim Marinir yang memberi ransum," imbuh Angga.
-
Kamis malam, Angga bermalam di kawasan Puncak Gunung Salak. Sebelumnya
di perjalanan bertemu Tim Marinir yang memberikan bantuan logistik.
Angga tidur beralaskan kantung jenazah yang dibawa TNI.
- Jumat
(11/5) pagi, Angga salat subuh dan berdoa agar mendapat petunjuk
keberadaan ayahnya. 'Mukjizat' pun datang, dia mendapat petunjuk bahwa
ayahnya berada di jurang jauh di bawah. Petunjuk itu kemudian
diberikannya kepada Tim Marinir.
- Jumat pukul 07.20 WIB, Tim
Marinir turun ke jurang. Angga sempat meminta ikut turun, namun Tim
Marinir meminta dia menunggu di atas. Untuk turun ke jurang membutuhkan
tali. Dan benar, ternyata sejumlah korban Sukhoi ada di jurang itu. Ti
Marinir juga menemukan SIM ayah Angga atas nama Aan Husdiana.
"Saya
sudah cukup puas dengan itu. Walau sebenarnya saya ingin menemukan
cincin atau benda yang lain. Tapi sudah cukup," imbuhnya.
- Jumat
sore, setelah melihat tim Marinir membawa SIM ayahnya, Angga cukup
puas. Dia akhirnya memutuskan turun bersama tim Marinir. Angga
mengucapkan terima kasih kepada Tim TNI AD dan Tim Marinir, relawan
serta Basarnas yang memberi bantuan.
"Sekarang kami berharap identifikasi bisa cepat dan akurat," tutur Angga, putra sulung almarhum Aan.
(ndr/asy)
detik.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar