Kepada Keith McFarland, penulis buku The Breakthrough Company,
James Goodnight, pendiri SAS, perusahaan pembuat peranti lunak,
mengatakan bahwa ada dua tujuan yang ingin ia capai sejak hari pertama
perusahaannya mulai beroperasi pada 1976. Pertama, membuat peranti lunak yang dibutuhkan konsumen. Kedua,
menciptakan lingkungan yang akan membuat karyawannya menikmati
pekerjaan mereka. “Saya menginginkan suatu tempat di mana berbagai
gangguan hidup tidak menerobos masuk sehingga jus kreatif kami dapat
mengalir,” kata Jimmy, panggilan akrab James Goodnight.
Sewaktu meluncurkan SAS, Jimmy dan kawan-kawannya bertekad membangun
sebuah perusahaan yang lebih kolegial, bukan lingkungan korporat ala
General Electric, tempat ia pernah mengerjakan sebuah proyek untuk NASA
sambil menyelesaikan program doktornya. Meski ia merasa bahwa bekerja di
GE itu menyenangkan, dia merasa seperti ada orang yang selalu
mengawasinya di balik punggungnya. Ia tak ingin itu terjadi di SAS,
bahkan ia ingin memberi sebagian besar karyawannya di SAS kantor pribadi
mereka sendiri.
Jimmy memenuhi janjinya. Beragam
tunjangan disediakan SAS. Ia memberi pegawainya bukan hanya kantor
pribadi di suatu kampus yang luas, yang dibuat mirip taman, tapi ada
pula dokter dan perawat yang selalu siaga, fasilitas penitipan anak yang
lengkap, dan bahkan penata rambut yang dapat diundang ke kantor. Tujuan
Jimmy untuk memperlakukan orang lain secara adil juga terbukti menjadi
strategi bisnis yang berhasil: Pendapatan SAS meningkat setiap tahun dan
SAS menjadi salah satu perusahaan peranti lunak terbesar di dunia.
Tahun 2011, pendapatannya naik 12 persen.
Seperti halnya mendiang Steve Jobs, Jimmy juga tidak peduli dengan
urusan menyenangkan Wall Street. “Kami hanya berusaha menyenangkan
karyawan kami dan pelanggan kami,” ujarnya. Maka, pada tahun 2002,
ketika perkembangan ekonomi memaksa kebanyakan perusahaan lain
memberhentikan karyawannya, Jimmy justru bertindak sebaliknya. “Ketika
begitu banyak orang mencari pekerjaan, kami harus mengambil kesempatan
untuk memasukkan orang-orang yang benar-benar kelas satu,” kata Jimmy
yang waktu itu justru menambah tenaga kerja sebanyak 8,5%. Tahun
berikutnya, pendapatan SAS tumbuh mencapai dua digit.
Apa kunci keberhasilannya? “Inovasi adalah kunci bagi keberhasilan
dalam bisnis, dan kreativitas menjadi bahan bakar inovasi,” ujar
Goodnight. Pada 2004, Harvard Business School menjuluki James Goodnight
sebagai salah seorang “20th Century’s Great American Business Leaders”
karena selama tiga dasawarsa memimpin bisnis yang telah mengubah cara
orang Amerika hidup, bekerja, dan berinteraksi di abad ke-20.
Agar karyawan menjadi kreatif dan gemar inovasi, Goodnight memandang
penting membahagiakan mereka. Filosofinya terdengar sangat sederhana:
“Jika kita menjaga karyawan kita bahagia, mereka akan melakukan
pekerjaan dengan bagus untuk menjaga agar pelanggan kita bahagia.” Sejak
berdiri hingga sekarang, ia tidak pernah memangkas jumlah karyawannya
walaupun situasi ekonomi tengah sukar. **
TEMPO
Karyawan Bahagia Pelanggan Bahagia
Written By Yayasan Kilau Indonesia on Selasa, 15 Mei 2012 | 01.05
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar