Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..
Senang sekali bisa bertemu kembali dengan para pembaca Kilau
yang budiman...
Iedul Fitri baru saja meninggalkan kita, permohonan maaf
yang tulus penulis sampaikan kepada pembaca semua.
Sepertinya kita semua sama, meninggalkan Ramadhan dan
bertemu Syawal ada senang dan ada sedih yang bercampur menjadi satu. Senang
karena kita telah menjalankan kewajiban sebulan penuh selama Ramadhan dan
dipertemukan dengan 1 Syawal sebagai Hari kemenangan.. sedih karena kita
meninggalkan ladang pahala yang luar biasa, suasana kebersamaan dalam beribadah
selama Ramadhan. Bulan yang jika di tunggu, harus dengan sebelas bulan kita
bersabar untuk bertemu. Itupun kalau kita masih di beri rezeki berupa kesempatan
berumur panjang dari Allah SWT.
Pembaca yang budiman..
Bicara soal Rezeki, terkadang ukuran manusia hanya
mengaitkan rezeki itu dengan uang, harta benda atau segala sesuatu yang
berkaitan selalu dengan rezeki duniawi. Marilah kita cermati; bahwa rezeki
berupa harta sebenarnya hanya sebagian saja dari rezeki Allah yang di berikan
kepada MahlukNya. Namun umumnya manusia senantiasa menganggap rezeki lebih
berorientasi pada dan berkonotasi dengan gemerlapnya dunia yang fana sehingga
rezeki hanyalah harta duniawi semata. Mari kita lihat pengertian istilah dari
arti kata rezeki. Rezeki menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah segala sesuatu
yg dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Tuhan); makanan
(sehari-hari); nafkah; kata lainnya berarti penghidupan; pendapatan
(uang dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan.
Bagaimana pandangan islam tentang rezeki ?
Rezeki dalam Islam melingkupi semua apa yang ada dalam
kehidupan manusia. Allah Ta'la telah banyak memberi rezeki kepada manusia
dengan beragam bentuk. Ada rezeki yang bersifat umum (الرزق العم )yakni
segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan, berupa harta, rumah,
kendaraan, kesehatan,kesempatan,kecerdasan, istri, suami, anak, orang tua,
teman,dan selainnya, baik berasal dari yang halal maupun haram. Rezeki jenis
ini Allah berikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang
kafir. Berikutnya Rezeki yang sifatnya khusus (الرزق الخاص )
Yakni segala sesuatu yang membuat tegak agama seseorang.
Rezeki jenis ini berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta semua rezeki
halal yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah. Inilah rezeki yang Allah
berikan khusus kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Inilah rezeki yang hakiki,
yang menghantarkan seseorang akan mendapat kebahagiaan dunia akherat.
Itulah mengapa Allah mengingatkan manusia bahwa nikmat
(rezeki) Allah terhadap manusia sungguh tidak akan pernah bisa dihitung. Sebab,
Allah telah menyediakan untuk umat manusia apa saja yang manusia perlukan pada
segala situasi dan kondisi, tinggal bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakan
rezeki kita agar kita bisa mendapatkan nikmat sebagai tanda syukur kepada
Allah, dan berusaha untuk menjauhi sikap zalim kepada Allah dengan menghitung hitungnya
seperti yang dimaksud ayat berikut ini..
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ
اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia
telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan
kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah).” (QS:
Ibrahim [14]: 34).
Namun simaklah salah satu ayat dari Surat Al Hajj berikut
ini :
“Maka
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rizki yang
mulia” (QS. 22 : 50).
Jelaslah, makna orang yang mendapatkan rezeki lantas
berusaha untuk mensyukuri dengan tidak menghitung hitungnya itulah orang
orang yang dipilihNya untuk mendapatkan rezeki yang berkah.
Bagaimanakah rezeki yang berkah itu? Apakah itu berarti
banyak ?
Pembaca yang budiman..
Rezeki banyak melimpah tidak sama konsepnya dengan rezeki
yang halal dan berkah. Bisa jadi seseorang mempunyai rezeki yang banyak tetapi
tidak terdapat keberkahan di dalamnya. Makna kata berkah sendiri berarti
al-ziyadah yang artinya bertambah dan al-namaa’ yang artinya tumbuh ber
kembang. Menurut Imam Al Baghawy, yang dimaksud dengan
barakah adalah tetapnya kebaikan ilahiy dalam sesuatu. Sudah barang tentu bahwa
di dalam Islam rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan
mengandung kebaikan di dalamnya. Sehingga jika seseorang mempunyai rezeki yang
berkah, maka rezekinya bertambah juga terdapat pula banyak kebaikan yang
tiada berkurang.
Bagaimanakah tuntunan Rasullallah SAW mengajarkan kepada
kita agar rezeki kita lancar dan berkah ?
Menjauhi pekerjaan yang haram dan syubhat. Hal ini
mengandung makna bahwa kita mencari rezeki di upayakan tidak melakukan dosa.
Karena dosa menutup pintu rezeki. Rasulullah bersabda: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki
karena dosa yang dibuatnya.” (Riwayat
at-Tirmizi). maka mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sholat Dhuha dan
Tahajud.Bekerja sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah
(kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal.”
(HR. Adailami)Mengadukan masalah rezeki ini hanya kepada Allah SWT. Sebagaimana
sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa
tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka
tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya
kepada Allah, maka Allah akan memberinya rezeki, baik segera ataupun lambat.”[HR. Abu Dawud dan Turmidziy,
Abu 'Isa berkata hadits ini hasan shahih gharib]Banyak membaca
istighfar.Rasulullah saw bersabda,”
Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah swt akan menjadikan setiap
kesulitan dengan kelapangan, dan setiap kesempitan dengan jalan keluar, dan Allah
akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak pernah disangka-sangkanya.“ [HR. Imam Ahmad dalam
Musnad]Sabar dan banyak membaca la hawla wa la quwwata illa billah.Tawakal
sepenuhnya kepada Allah SWT. Karena Allah akan memberikan rezeki
dari arah yang tak di sangka sangkanya, Dan barangsiapa bertawakal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya(QS 65 : 3) dan “Jika kalian bertawakal kepada
Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada
kalian, sebagaimana Allah telah memberi rezeki kepada burung yang berangkat di
pagi buta dengan perut kosong, dan kembali ke sarangnya dengan perut kenyang.”[HR. Bukhari]
Bershadaqahlah
dan Nafkahkanlah harta tersebut kepada yang berhak. Rasulullah bersabda ”Ada tiga hal yang aku
bersumpah kepadanya dan aku akan menyampaikan suatu berita kepadamu, maka
perhatikan benar-benar. Tiadalah akan berkurang harta seseorang karena shadaqah….dan tiadalah seseorang
membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan kepadanya pintu kemiskinan.”[HR. Turmudziyy] “Janganlah kamu menutup-nutupi
apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan menutupi rizkimu.” Dalam riwayat lain dinyatakan, “Nafkahkanlah hartamu serta jangan kamu
menghitung-hitungnya, maka Allah swt akan menghitung-hitungnya untukmu; dan
janganlah kamu menakar-nakarnya, niscaya Allah Alah menakar-nakarnya untuk
kamu.” [HR. Bukhari dan
Muslim]Tolonglah Agama Allah dengan menegakkan Syariat Islam secara kaffah.
Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 7:” Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“.
Menyimak tuntutan Rosulallah SAW di
atas , hendaklah kita memulainya sepenuh hati dengan keikhlasan, tidak
mencoba menghitung hitungnya, berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan
meminta dan mengadukan masalah rezeki kita hanya kepadaNya sehingga ada 2
perkara penting yang perlu kita miliki yakni iman dan amal sholeh,. Hal inilah
yang akan dapat mengantarkan jiwa kita untuk bisa mendapatkan rezeki yang mulia
dari Yang Maha pemilik Kekayaan..
Sangat tidak patut bahkan sangat tercela bila ada seorang
Muslim merasa terhina hanya karena kurang harta. Apalagi kalau sampai berani
mengambil keputusan tidak benar dalam hidupnya karena alasan kemiskinan. Sebab,
rezeki yang paling mulia adalah surga, bukan harta atau benda.
Itulah mengapa, para Nabi dan Rasul tidak pernah berbangga
dengan harta dan benda. Bahkan para Nabi dan Rasul itu lebih memilih hidup
susah demi rezeki yang mulia di sisi-Nya. Namun demikian, Islam tidak
mengharamkan umatnya kaya raya. Karena kekayaan yang disertai iman juga bisa
mengantarkan seseorang pada derajat yang mulia di sisi-Nya.
Teriring pesan singkat dari pembahasan Rezeki yang berkah
dan mulia,
“Apabila
engkau mendengar firman Allah Ta’ala
(wa rizqun karim) ‘Dan rezeki
yang mulia,’ maka rezeki yang mulia itu
adalah surga.
Wassalamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..
Indramayu, 02 Agustus 2015


0 komentar:
Posting Komentar