Mari
sejenak kita lihat dan amati lingkungan di sekitar kita. Masih adakah
saudara kita yang untuk makan 3 kali sehari saja masih amat sangat
susah? Masih adakah saudara kita yang telah mencapai usia senja namun
masih dituntut kerja keras untuk bertahan hidup di dunia? Lalu
perhatikanlah, masih adakah anak-anak kecil yang berkeliaran di jalanan,
menyanyi dengan gitar mungilnya dan menerobos celah mobil yang berhenti
di lampu merah? Padahal seharusnya anak-anak seusia mereka duduk manis
di bangku sekolah dan menikmati masa kanak-kanaknya dengan gembira.
Kenyataannya, tidak semua orang seberuntung kita. Ada yang saking
laparnya, mereka 'menggali' tempat sampah, bak menggali harta karun yang
tertimbun tanah hanya untuk menemukan makanan sisa yang terbuang
percuma. Dan semua itu masih terasa lezat di lidah mereka.
Ada seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bekerja
brekeliling komplek perumahan menjual cobek yang beratnya berkilo-kilo,
dan itupun tidak selalu habis terjual dalam sehari. Yang ia lakukan
hanya semata-mata untuk bisa menyambung nyawanya.
Ada kakek tua yang menjajakan amplop di tengah teriknya matahari, hanya
untuk bisa makan sehari-hari. Padahal di jaman serba canggih sekarang
ini, amplop untuk berkirim surat sudah jarang sekali dicari.
Ada lagi yang tak kalah menyayat hati, yaitu kisah seorang kakek tua
yang masih bekerja mengayuh becak. Namun saat bekerja, kakek tersebut
jatuh tersungkur dan meninggal dunia karena fakor usia dan kelehan yang
menderanya. Masyaa Allah, Beliau meninggal saat mencari nafkah untuk
menghidupi keluarganya.
Jika kita melihat lebih luas, di luar sana masih banyak sekali cerita
yang mungkin kalau kita mengetahuinya, hati kita akan tergugah. Hati
kita akan terpanggil untuk berbuat sesuatu guna membantu mereka dari
segala kesusahan. Menjadikan mereka merasakan apa yang kita rasakan, dan
menjadikan mereka memiliki juga apa yang kita miliki.
Pernah mendengar istilah “Sedekah tak harus menunggu kaya.” Yap! Untuk
berbagi kita tak harus menunggu harta melambung tinggi. Sebenarnya kita
ini sudah kaya. Allah menciptakan kita dengan sempurna. Seandainya, ada
seseorang yang membutuhkan mata, lalu ia menawar harga mata yang Allah
titipkan ke kita ini dengan harga ratusan juta, apakah anda bersedia
menjual dan memberikannya? Saya rasa tidak. Lihat, mahal sekali harga
organ-organ tubuh kita yang kita dapatkan secara cuma-cuma dari Yang
Maha Pencipta.
Kita ini sudah kaya! Allah menitipkan banyak kekayaan kepada kita,
apakah kita sudah mensyukuri segala pemberian-Nya?
Tidaklah penting seberapa kaya rayanya seseorang, yang terpenting adalah
seberapa berkahnya kekayaan yang Allah titipkan. Harta yang berkah
adalah yang digunakan di jalan Allah, yang bermanfaat bagi sesama.
Berbagi adalah satu jalan memecahkan masalah, berbagi adalah sebuah
solusi. Tentunya juga menjadi solusi untuk kita sendiri. Karena
sesungguhnya jika kita berbuat baik, maka kebaikan tersebut untuk kita,
begitupun sebaliknya. Bayangkan, berapa banyak orang yang tersenyum
ketika mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan? Dan ketika kita tahu
alasan mereka tersenyum adalah diri kita, bukankah kita juga merasa
bahagia? Dan kita juga tidak tahu, berapa banyak do'a – do'a yang
mungkin saja diam-diam mereka panjatkan untuk kita. Dan kita tidak
pernah tau do'a yang mana dan dari siapa yang Allah kabulkan untuk kita.
Percayalah!
Sedekah atau menginfakkan harta kita di jalan Allah, sama sekali tidak
akan menjadikan kita miskin atau bangkrut. Justeru, sedekah akan membuka
pintu-pintu rezeki lainnya. Dalam Al Qur'an, Allah Ta'ala berfirman :
“Perumpaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah serupa dengan
sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada
seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS
Al-Baqarah :261)
Sedekah kita akan menjadi naungan di hari kiamat kelak. Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wa salam bersabda :
“Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad)
Malaikat
pun turut mendo'akan kebaikan untuk orang-orang yang menginfakkan
hartanya dan mendo'akan kehancuran bagi mereka yang enggan
mengeluarkannya (kikir). Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wa salam
bersabda :
“Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua
malaikat yang turun, salah satunya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti
kepada orang-orang yang berinfaq' sedangkan (malaikat) yang lainnya
berkata, 'Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang
menahan (hartanya).” (HR Bkhari-Muslim)
Setelah
mengetahui beberapa keutamaan sedekah, semoga hati kita tergugah untuk
menambah pundi-pundi pahala untuk bekal kita di akherat kelak.
Berharaplah balasan segala amal kita hanya kepada Allah, bukan berharap
balasan manusia atau pujian dari oranglain. Apa yang kita miliki
semuanya milik Allah. Apa yang kita beri, SesungguhnyaAllah Maha
Mengetahui.
Japan, 31 Mei 2015
Farida (Relawan Kilau)
The Power Of Giving
Written By AKHMAD SUGANDI on Senin, 01 Juni 2015 | 03.08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar