Bismillahhirrohmaanirrohim...
Segala puji hanya Allahlah yang berhak tanpa kecuali..
Pembaca yang di rahmati Allah..
Segala puji hanya Allahlah yang berhak tanpa kecuali..
Pembaca yang di rahmati Allah..
Hakekatnya manusia adalah mahluk Sosial, mahluk yang tidak bisa hidup sendiri,
mahluk yang saling membutuhkan dan saling membantu.
Peduli adalah Suatu tindakan yang didasari pada keprihatinan terhadap masalah orang lain (Ensiklopedia).
Hal ini mengandung makna bahwa orang yang peduli adalah orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Orang yang mempunyai minat atau ketertarikan untuk membantu orang lain. Bukan berarti untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih kepada membantu menyelesaikan permasalahan yang di hadapi orang lain dengan tujuan kebaikan dan perdamaian.
Peduli adalah Suatu tindakan yang didasari pada keprihatinan terhadap masalah orang lain (Ensiklopedia).
Hal ini mengandung makna bahwa orang yang peduli adalah orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Orang yang mempunyai minat atau ketertarikan untuk membantu orang lain. Bukan berarti untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih kepada membantu menyelesaikan permasalahan yang di hadapi orang lain dengan tujuan kebaikan dan perdamaian.
Masih kah kita memiliki rasa peduli?
Menjawab pertanyaan tersebut , masing masing pembaca bisa mengukur seberapa
rasa peduli yang saat ini masih kita miliki. Keluarga dan nilai nilai keagamaan
yang tertanam dengan baik akan mencerminkan nilai-nilai kepedulian sosial yang
tinggi. Karena nilai inilah yang menjadi suara hati kita untuk selalu membantu
dan menjaga sesama. Seorang ahli parenting dari Shining Stors Academy , Dame Sidabutar mengatakan bahwa Membentuk Jiwa
Sosial/ kepedulian dan kepribadian harus di awali dengan memperkenalkan nilai-nilai
sosial sejak kecil, sedari dini. Maka peran keluarga, teman dan lingkungan akan
sangat berpengaruh terhadap hasil akhir nilai nilai tersebut.
Kita tidak bisa menutup mata, Pengaruh Tekhnologi dan Arus Global telah merubah
secara perlahan bahkan ekstrimnya telah merubah secara drastis pola hidup
masyarakat ,dari pola asuh sampai hubungan sosial dalam keluarga secara
frekuensi maupun intensitas komunikasi, serta hubungan sosial antar warga.
Berdasarkan pengamatan kasat mata penulis, bahwa kehadiran tekhnologi telah
berpengaruh menggeser nilai nilai kearifan budaya lokal. Untuk itu alangkah
lebih bijaksana jika kita kembali meneladani sikap para sahabat Rosulallah
berikut ini; yakni Umar bin Khatab,seorang pemimpin yang mencermin kan
kesederhanan tetapi amat peduli kepada rakyatnya. Begitupun dengan sahabat
Utsman bin Affan, saudagar kaya yang dermawan ini, menyumbangkan Unta lebih dari 940 ekor,dan membawa 60 ekor kuda untuk
menggenapkan 1000 ekor kuda. Tak kalah menakjubkan untuk di teladani, Sahabat
Rosullallah Abdurrahman bin 'auf, telah menafkahkan hartanya di jalan Allah.
Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40 dirham emas, 500 kuda perang dan 1500
ekor unta disumbangkan untuk perjuangan. Sahabat sahabat Rosulallah tersebut
telah menjalankan perintah Allah yang tertuang dalam Al-Quran surat An Nisa
36: "....... Dan Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak anak
yatim,orang orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga
yang bukan kerabat, teman sejawat, Ibnu Sabil dan hamba Sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang orang yang sombong dan membanggakan diri."
Pembaca yang budiman, Ajaran Islam yang mulia menganjurkan kepedulian sosial, memiliki pribadi yang simpati dan empati kepada sesama. Bahkan kita diwajibkan membantu dan berbagi dengan memberikan kelebihan rejeki kepada orang lain. Berbagi dengan keikhlasan dan mengharap Ridhlo Allah semata. Wujud aplikasi berbagi berupa Anjuran bersedekah dan kewajiban untuk berzakat (membersihkan Harta). Dalam Surat Al Baqarah ayat 261 dikatakan : "Perumpamaan orang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah sebutir benih yang menumbuhkan 7 butir dan setiap butir membuahkan lagi seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendaki.Allah maha luas karuniaNYa dan lagi Maha mengetahui."
Perhatikan sekeliling kita,banyak orang kaya yang sibuk dengan urusannya
sendiri, mengutamakan kehidupan pribadi dan kelompoknya, sehingga kegiatan
kemasyarakatan seolah sudah menjadi sesuatu yang langka dan baru bahkan sudah
menjadi barang antik. Paham individualis telah membuat hidup acuh tak acuh
walaupun mereka mampu untuk mengulurkan tangan kepada kaum yang kurang
beruntung. Sebagian lagi, orang sibuk menyalahkan diri sendiri dan asik dengan ketidakberdayaannya. Sungguh kenyataan yang
sangat memilukan di negara Timur yang menjunjung dan terkenal dengan gotong
royong, budaya sopan, ramah dan jujur. Teringat akan Hadits yang di sampaikan
Al Baihaqi; "Bukan Mu'min, orang yang kenyang perutnya sedangkan tetangga
sebelahnya kelaparan....
Masihkah kita menutup mata akan kalimah kalimah
indah dari ayat ayat Al Quran maupun Hadits Nabi..?!
Jika kita masih menutup hati kita maka keindahan
kepedulian sosial ini hanya menjadi simbol kejayaan dan menjadi icon dari benda
matii yang tak pernah terjamah.
Dari paparan di atas, jelas bahwa egoisme dan
materialism merupakan salah satu faktor penghambat untuk melatih peduli. Oleh
karena itu pandangan tentang kiat bagaimana melatih kepekaan sosial atau peduli
ini dapat kita tarik benang merah sebagai berikut :
1. Teknologi maju harus kita manfaatkan untuk
menggali informasi dalam mengamati , meniru perilaku dan peduli sosial dari
orang orang yang diidolakan, seperti tokoh tokoh Islam, tokoh kemasyarakatan
dan public figur lainnya..
2. Perlunya mendapatkan informasi verbal dan non
verbal, yang berkaitan dengan pemahaman tentang keadaan yang dirasakan dan
bagaimana sikap serta perilaku peduli sosial terhadap masyarakat yang belum
beruntung.
3. Perlunya melibatkan semua unsur terkait untuk
masuk dalam mengelola kegiatan organisasi soial dan kegiatan aksi sosial.
khususnya generasi muda.
4. Gagasan AA Gymnastiar tentang 3 M ( Mulailah
dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri dan, Mulailah dari sekarang) perlu di
pesan ulangkan melalui Media Sosial .fa
5. Orang tua dan keluarga adalah teladan terdekat
dan tempat praktis untuk memulai latihan peduli.
Pembaca budiman, tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna kecuali yang Maha
Sempurna Allah SWT.
"Lihatlah orang yang di bawahmu, dan janganlah lihat orang di atasnnya, agar engkau tidak meremehkan Karunia Allah.." (HR. Bukhari Muslim)
"Lihatlah orang yang di bawahmu, dan janganlah lihat orang di atasnnya, agar engkau tidak meremehkan Karunia Allah.." (HR. Bukhari Muslim)
Indramayu, 8 April 2015.
Siti Ratnawati
Donatur Kilau
https://www.facebook.com/profile.php?id=100006686119266&sk=about




0 komentar:
Posting Komentar