Belum lama aku mengenalnya. Tapi rasanya, dia sudah membuatku jatuh
cinta dan benar-benar menjatuhkanku ke dalamnya. Dia yang membuatku
nyaman. Dialah Lembaga Dakwah Kampus atau biasa kita sebut dengan LDK.
Kurang lebih, baru dua tahun ini aku mengenalnya. Untuk ukuran ‘pdkt’
memang terlihat lama, tapi tidak dalam hal ini, aku merasa begitu cepat
prosesku mencintainya.
Sebuah metamorfosa, berproses selama kurang
lebih satu tahun lamanya. Ditempa bagaikan besi, hingga akhirnya
sedikit demi sedikit menjadi perabot yang bermanfaat. Bagaikan mimpi.
Dari zero menjadi hero. Jika memang ini mimpi, rasanya tak ingin
terbangun walau hanya sekejap. Terlalu indah untuk dilewatkan.
Tak
ada penyesalan, mungkin inilah akhir dari sebuah cinta penuh
keikhlasan. Ikhlas ditempa, dijatuhkan, dicaci, dibenturkan, dipaksa,
ah, rasanya amat menyakitkan. Tapi ketika ikhlas, sungguh sepahit apapun
itu, akan terasa manis jika dimaknai dengan benar.
Step by step,
kiranya begitulah caraku. Awal mengenal tak begitu menyenangkan. Berawal
dari sebuah keterpaksaan untuk harus berjilbab lebar, mengenakan rok,
kaos kaki, dan ‘perangkat’ lainnya. Menjadi bukan aku banget!
Sedikit
menceritakan bagaimana aku di zaman dulu. Tidak terlahir dari keluarga
yang ketat dalam urusan agama membuatku nyaman dalam meninggalkan shalat
dan puasa. Puasa Ramadhan yang bolong pun sepertinya tak genap
kulunasi. Selalu menuntut hak, tapi tak pernah sempurna dalam
menjalankan kewajiban. Betapa jahilnya aku di masa itu. Berhubungan
tanpa batas dengan lawan jenis yang bukan mahramku adalah rekor terburuk
seumur hidup. Lalu, apakah aku menyesal? Tentu. Tapi kurasa tak ada
gunanya untuk menyesal. Yang dapat kusyukuri sekarang adalah karena
jahilku di masa lalu kemudian aku bisa memaknai perjalanan di LDK
sebagai sebuah kisah indah. Jika aku sudah alim sejak awal, mungkin aku
akan merasa biasa saja dengan perjalanan menjadi ADK ini. Bukankah tak
akan ada kisah indah tanpa sebuah kisah buruk? Begitulah, aku yang masih
berada di titik yang jauh dari hidayahNya.
Perjalanan menuju
hidayah itu bermula ketika aku masuk ke sebuah kos binaan takmir masjid
kampus. Saat itu, tinggal di sana terasa bagaikan masuk penjara Islami.
Harus bangun pagi, shalat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan membaca
Al-Ma’tsurat, kultum, riyadhah, semuanya membuatku bosan dan lelah.
Ingin pindah dan pergi, tapi kurasa itu tak mungkin. Orangtua yang masih
was-was dengan kepergianku ke Jogja memintaku untuk tetap tinggal
bersama kakakku yang kos di tempat itu. Yap, aku hanya bisa manut.
Suatu
hari, kultum pagi ba’da subuh membahas tentang aurat dan cara dalam
menjaganya. Seorang mbak kos berkata, “Pakai kerudung itu mestinya yang
menutup dada. Tak harus bagus. Kaya punya dia itu loh, cantik tapi tak
syar’i”, dia berkata sambil menunjuk ke arahku yang saat itu mengenakan
kerudung cantik dengan belahan pinggir sampai pundak. Ah! Begitu
menohok. Tapi, bukannya mengganti jilbab, aku justru membenci mbak kosku
itu.
Beberapa hari dari kejadian tersebut, rohani Islam di
kampusku mengadakan recruitment anggota. Dengan percaya diri, aku ikut
mendaftar karena diajak oleh seorang kakak angkatan. Masih dengan celana
jeans dan kerudung tak syar’i, aku masuk ke organisasi tersebut. Saat
itu, aku berfikir, tak mungkin sebuah organisasi Islam menolak calon
anggotanya karena pakaian yang dikenakan. Dan ternyata benar. Aku masuk
sebagai staff Departemen Akademik.
Berhari ku jalani aktivitas di
sana. Mulai terasa ketidaknyamanan itu. Ketika bersama dengan
teman-teman, aku malu dan minder. Dengan jilbabku yang sekian rasanya
tak pantas aku berada di sana bersama mereka. Alasan inilah yang
kemudian membuatku mundur perlahan dari SKI (Sie Kerohanian Islam) dan
stay di HIMA (Himpunan Mahasiswa). Lama vakum dari SKI ternyata
membuatku rindu. Kawan-kawan yang begitu hangat, ukhuwah yang terasa
begitu erat walau baru saja bertemu. Ah! Rindu sekali rasanya. Tapi saat
itu rasa minder dan malu mengalahkan segala kerinduanku.
Beberapa
bulan pasca masuk SKI, aku dikumpulkan dalam sebuah agenda. Sebut saja
agenda itu sebagai ‘Liqaisasi’. Yap! Saat itulah aku mulai dekat dengan
LDK, dengan tarbiyah. Segala di dalamnya memahamkanku akan Islam, yang
menguatkan ibadah dan aqidah. Dan aku pun mulai berubah. Bukan menjadi
Sailormoon, apalagi Baja Hitam. Tapi menjadi aku yang lebih shalihah.
Terjadi
perbaikan sedikit demi sedikit. Pemaksaan terhadap diri sendiri-pun tak
jarang dilakukan karena harus memenuhi target amalan yaumiyah. It’s
wrong, but I think this is my first step. Proses yang tak sebentar dan
tak mudah pula. But, I believe I can.
Masa OSPEK memberiku
kesempatan lebih untuk memperbaiki diri. Ketika sebelumnya aku malu
dengan jilbab besar saat belajar di kelas, di saat OSPEK lah aku mulai
belajar untuk berjilbab yang syar’i. Auratku hampir tertutupi dengan
sempurna, tentu saja dengan bantuan dekker dan jilbab besar. Betapa
lingkungan itu mempengaruhi kepribadian, sikap, dan tata cara berpakaian
sekalipun.
Selepas OSPEK, aku mencoba istiqamah dengan pakaianku,
kawan-kawan di LDK, di kelompok halaqah, mereka yang membantuku untuk
istiqamah. Tidak dengan menasihatiku, tapi bagaimana mereka memberikan
contoh untuk istiqamah jauh lebih baik dari 1000 nasihat.
Memasuki
tahun kedua, sebuah kejutan besar ketika aku yang masih jauh dari kata
shalihah ini harus memegang amanah sebagai coordinator akhwat departemen
jurnalistik di SKI.
Seringkali merasa tak mampu, amanah ini
terlalu besar, amanah ini bukan untukku, dan mengeluhkan hal-hal lain
yang tak berguna. Saat seperti itulah aku benar-benar merasakan indahnya
ukhuwah. Kekuatan mereka yang menguatkanku, dan petuah mereka membuatku
sadar pentingnya menjaga amanah. “Ini bukan amanah dari mbak atau masmu
dik, amanah ini datangnya dari Allah. Bukan mbak yang memilihmu menjadi
ko-akh, tapi Allah yang memilihmu. Kami hanya perantara saja”, begitu
kata salah satu tim formatur (penentu pengurus) kepadaku. Yes, begitu
menguatkan dan memunculkan benih motivasi dalam diriku.
Masuk
semester empat, aku mulai mengampu tutorial di kampus. Inilah kelompok
pertama yang aku ampu, dengan jumlah empat akhwat yang berbeda karakter
dan kapasitas yang juga berbeda. Tantangan yang kurasa tak mudah adalah
bagaimana aku harus bersikap di antara mereka, dimana yang satu paham
agama dengan baik, sedangkan yang lainnya belum. Semangat belajar dan
mengajarku meningkat karena tantangan tersebut.
Kelompok tutorial
yang baru kuampu selama delapan minggu menjadi keluarga baru bagiku.
Mereka yang membuatku nyaman. Dan satu hal yang membuatku senang, ketika
kulihat seorang adik tutorku yang jarang shalat bersedia mengimami
teman-teman kelompoknya saat shalat Zhuhur. Kusadari, tugasku saat ini
tak hanya bermetamorfosa menjadi diri yang lebih baik, tapi juga
bagaimana aku mampu memetamorfosakan orang lain menjadi lebih baik pula.
LDK yang membelajarkanku. Ah, aku begitu jatuh cinta dan tak ingin
meninggalkannya. Tapi amanah orangtua harus tetap dijalankan, kuliah
dengan waktu singkat menjadi target baru. Semoga nantinya mampu menjadi
ADP di kampus tercinta.
Sahabat, masa lalu adalah kenangan.
Jadikan ia sebagai memori yang bisa menjadi parameter dalam kehidupanmu
selanjutnya. Tak peduli siapa pun kamu di masa lalumu, yang penting saat
ini adalah bagaimana kamu bisa memperbaiki kesalahanmu di masa lalu.
Jangan malu untuk berubah, jangan malu untuk berbeda. Mulailah dengan
satu langkah dan keberanian untuk bermetamorfosa. Dan lihatlah akan
menjadi seperti apa kamu nantinya. Masa depanmu? Siapa yang tahu? Jadi,
mulailah untuk mengukir jejak keberhasilanmu.
Bermetamorfosa, dan Memetamorfosakan
Written By Yayasan Kilau Indonesia on Jumat, 01 Juni 2012 | 22.00
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar